PYM Sultan Syarif Padang Lawas
Andalas, 1 Desember 2025
Kepada Yang Terhormat,
Bapak Presiden Prabowo Subianto,
Di Istana Negara, Jakarta
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Dengan hormat,
Perkenankanlah saya, Sultan Syarif Padang Lawas, menulis surat ini kepada Bapak Presiden dengan hati yang penuh keprihatinan dan harapan. Belum lama ini, kita kembali dikejutkan dengan serangkaian musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumber. Banjir bandang, tanah longsor, dan gempa bumi telah merenggut nyawa, harta benda, dan meninggalkan luka mendalam bagi kita semua.
Sebagai seorang hamba Allah yang beriman, saya mencoba merenungkan setiap kejadian ini. Saya memaknai musibah ini sebagai sebuah “surat cinta” dari Allah SWT. Surat cinta yang berisi peringatan, teguran, dan ajakan untuk kembali kepada-Nya. Allah SWT sangat mencintai hamba-Nya, sehingga Dia tidak ingin kita terlena dalam kesenangan duniawi dan melupakan kewajiban kita sebagai khalifah di bumi.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Ahzab ayat 22:
وَلَمَّا رَءَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلْأَحْزَابَ قَالُوا۟ هَٰذَا مَا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَصَدَقَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ ۚ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّآ إِيمَٰنًا وَتَسْلِيمًا
“Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.”
Ayat ini mengingatkan kita bahwa setiap ujian dan cobaan yang menimpa orang-orang beriman seharusnya semakin menguatkan iman dan ketundukan kita kepada Allah SWT. Musibah adalah cara Allah SWT untuk menguji kesabaran, keikhlasan, dan keteguhan iman kita.
Bapak Presiden yang saya hormati,
Dalam konteks hermeneutika, musibah dapat diinterpretasikan sebagai teks yang mengandung makna mendalam. Untuk memahami makna tersebut, kita perlu melakukan beberapa langkah penafsiran:
1. Konteks Historis dan Sosial: Memahami latar belakang terjadinya musibah, faktor-faktor penyebabnya, dan dampaknya terhadap masyarakat.
2. Analisis Bahasa: Memahami simbol-simbol dan metafora yang terkandung dalam musibah. Misalnya, banjir dapat diartikan sebagai pembersihan dosa-dosa, gempa bumi sebagai guncangan kesadaran, dan tanah longsor sebagai akibat dari kerusakan lingkungan.
3. Interpretasi Subjektif: Setiap individu memiliki pengalaman dan pemahaman yang berbeda terhadap musibah. Oleh karena itu, interpretasi subjektif sangat penting untuk memahami makna musibah secara personal.
4. Refleksi dan Aksi: Setelah memahami makna musibah, kita perlu melakukan refleksi diri dan mengambil tindakan nyata untuk memperbaiki diri, lingkungan, dan hubungan kita dengan Allah SWT.
Oleh karena itu, saya berharap Bapak Presiden dapat memberikan perhatian khusus terhadap penanganan musibah ini. Bukan hanya sekadar memberikan bantuan materi, tetapi juga memberikan pendampingan psikologis dan spiritual kepada para korban. Selain itu, saya juga berharap Bapak Presiden dapat mengambil langkah-langkah strategis untuk mencegah terjadinya musibah serupa di masa depan.
Mari kita jadikan musibah ini sebagai momentum bagi kita untuk bersatu, bahu membahu membantu saudara-saudara kita yang terkena musibah. Ulurkan tangan, berikan bantuan materi dan moril, serta doakan agar mereka diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi cobaan ini.
Mari kita jadikan musibah ini sebagai pelajaran berharga untuk menjadi manusia yang lebih baik, lebih peduli, dan lebih bertakwa kepada Allah SWT. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi kita semua dari segala macam musibah dan memberikan kekuatan kepada kita untuk menghadapi setiap cobaan.
Demikian surat ini saya sampaikan, Bapak Presiden. Atas perhatian dan kebijaksanaannya, saya mengucapkan terima kasih.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Hormat saya,
Sultan Syarif Padang Lawas

