Foto: Satya Padma dan karyanya
JAKARTA, Asta Warta – Di hari di mana seluruh bangsa merayakan keberadaan para pahlawan tanpa tanda jasa, penulis aktif dengan nama pena Satya Padma menghadirkan esai yang menyentuh hati dan menggugah semangat, sebagai penghormatan kepada para guru yang telah membentuk generasi muda Indonesia. Dengan kata-kata yang penuh rasa hormat dan kebenaran, melalui dialog lewat telepon, Selasa (25/11/2025) Satya Padma menggambarkan guru bukan hanya sebagai pemberi ilmu, melainkan sebagai cahaya yang menerangi jalan ke masa depan.
Nama pena Satya Padma yang kini dikenal luas di dunia sastra Indonesia merupakan wadah ekspresi bagi Nuris Fatmawati, wanita kelahiran Kota Tembakau, Temanggung, Jawa Tengah, pada 20 Oktober 1982. Sebelum menggunakan nama pena ini, dia telah mengawali perjalanan menulisnya dengan nama Fidèlé Amour, menelusuri dunia kata sejak awal 2022. Dengan hasrat yang mendalam terhadap romansa sejarah dan budaya, Satya Padma telah menciptakan berbagai karya solo yang bersetting luar negeri, terinspirasi dari pertemuan dengan sahabat-sahabat online-nya yang berasal dari berbagai belahan dunia.
Dalam esainya yang dirilis khusus untuk Hari Guru 2025, Satya Padma menuliskan: “Guru adalah orang pertama yang mengajarkan kita bagaimana melihat dunia dengan mata yang terbuka – bukan hanya dengan membaca buku, tapi dengan merasakan arti kebenaran dan kerja keras. Mereka yang bersedia mengorbankan waktu dan tenaga, bahkan ketika tidak dilihat atau dihargai.” Kata-katanya yang lugas namun penuh emosi berhasil menangkap inti makna Hari Guru: sebuah kesempatan untuk mengingat kembali semua orang yang telah membimbing kita menuju jalan yang benar.
Selain menulis, hobinya yang beragam – mulai dari belajar bahasa asing, membaca, hingga menekuni aksara Jawa (Carakan) sebagai upaya pengembangan novel berbahasa Jawa – menunjukkan kedalaman wawasan yang dimilikinya. Hal ini juga tercermin dalam cara dia menggambarkan guru sebagai sosok yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan akademis, tetapi juga nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang tak ternilai harganya.
Hingga saat ini, Satya Padma telah menghasilkan beberapa novel solo dan lebih dari 90 antologi, membuktikan dedikasinya dalam menyebarkan pesan-pesan positif melalui tulisannya. Pada Hari Guru kali ini, dia mengajak seluruh masyarakat untuk tidak hanya memberikan ucapan terima kasih, tetapi juga untuk menjadi “guru” bagi sesama – memberikan nasihat, dukungan, dan harapan kepada mereka yang membutuhkannya.
“Setiap kita bisa menjadi cahaya bagi orang lain, seperti yang dilakukan guru kepada kita,” tutup Satya Padma dalam esainya. Pesan ini menjadi panggilan untuk semua orang untuk turut berperan dalam membangun bangsa yang lebih baik, satu langkah kecil pada satu waktu. (Jalfad)

